• March 4, 2024
Daftar Merah Hewan dan Tumbuhan

Memahami Daftar Merah Hewan dan Tumbuhan yang Terancam Punah

Awal th. ini, pemerintah baru saja mengeluarkan Inpres Nomor 1 Tahun 2023 perihal Pengarusutamaan Keanekaragaman Hayati. Ini artinya didalam menggerakkan roda pembangunan, tak hanya mengusahakan mendapatkan potensi dan juga mengembangkannya supaya menjadi devisa dan menambah kesejahteraan masyarakat, juga didalam kaitan pembangunan dan pengembangan suatu wilayah wajib mempertimbangkan segi keanekaragaman hayati, baik segi pelestrian maupun pemanfaatan.

Indonesia yang terkenal akan permainan dari situs slot deposit dana telah meratifikasi sebagian konvensi internasional berkenaan keanekaragaman hayati, pergantian iklim dan lainnya. Ini artinya, apalagi Indonesia telah berkomitmen pada masyarakat dunia untuk aktif menjaga keanekaragaman hayati dan juga kurangi dampak pergantian iklim.

Salah satu usaha atau cara awal untuk mencegah kepunahan suatu type kehati adalah dengan menyadari status keterancaman suatu type kehati. Cara untuk menyadari atau menilai suatu type itu dikategorikan sebagai type yang berisiko mengalami kepunahan adalah dengan melaksanakan serangkaian kesimpulan pada segi biologi, ekologi dan ancaman.

Panduan perihal proses penilaian ini dapat dijalankan dengan gunakan dokumen yang telah disusun oleh sebuah organisasi konservasi internasional, yaitu International Union for Conservation of Nature (IUCN) yang telah berdiri sejak th. 1964. Dokumen ini telah diterima sebagai dokumen utama (dan barangkali satu-satunya) yang digunakan untuk menilai risiko kepunahan suatu type kehati baik flora, fauna maupun jamur.

Tentu saja, tiap-tiap negara tidak wajib gunakan dokumen ini untuk diadopsi. Namun berasal dari pengalaman saya dan sebagian kolega peneliti Indonesia mencoba untuk mengembangkan saran semacam ini untuk tumbuhan di Indonesia, ternyata sesungguhnya tidak mudah.

Serangkaian kesimpulan yang wajib dijalankan untuk menilai status keterancaman suatu type kehati pada lain menyadari sebarannya, berapa lama kisaran hidupnya, usia berapa terasa bereproduksi, dan yang terutama adalah apa saja ancaman yang dihadapi type tersebut baik di jaman lalu, saat ini dan proyeksi ancaman di jaman mendatang.

Kelihatannya rumit, tapi data-data ini dapat diperoleh berasal dari bermacam sumber baik itu pengamatan segera berwujud belajar populasi, data-data perdagangan, dan referensi lainnya yang tentu saja secara ilmiah dapat dipertanggung jawabkan. Seluruh proses penilaian/assessment ini dijalankan oleh para relawan, yang sebagian besar adalah peneliti, yang tergabung didalam IUCN Species Specialist Group.

Produk berasal dari semua proses ini adalah ‘status konservasi’ suatu type kehati’. Status konservasi ini dapat diperbarui berdasarkan hasil penelitian secara reguler, idealnya tiap-tiap lima th. sekali. Menurut information teranyar mereka (pada saat tulisan ini dibuat), saat ini tersedia lebih berasal dari 150.300 type didalam daftar merah IUCN di mana lebih berasal dari 42.100 type kehati yang terancam punah, juga di dalamnya 41% amfibi, 37% hiu dan pari, 36% terumbu karang, 27% mamalia, 13% burung.

Dari jumlah itu, lebih kurang 15.000 type kehati Indonesia telah dinilai status konservasinya, dan 2.343 di antaranya berisiko terancam punah, juga 1.297 type tumbuhan. Data ini dapat diperbarui tiap-tiap saat. Tentunya jumlah ini masih jauh mencerminkan berasal dari jumlah keseluruhan kekayaan kehati Indonesia, dan wajib usaha sungguh-sungguh untuk melaksanakan proses penilaian status kehati ini.

Lalu apakah status konservasi ini dapat diterapkan secara menyeluruh untuk tiap-tiap negara? Bisa iya dan dapat tidak, sebab status konservasi tersebut sifatnya ‘global’ sebab penilaian ini adalah untuk semua dunia. Artinya jika suatu type tumbuhan/hewan yang punya sebaran di luas di dunia punya status ‘terancam punah’, belum pasti type tersebut ‘terancam punah’ di suatu negara, dan sebaliknya.

Namun jika type yang dinilai adalah type endemik maka status konservasi global dapat segera diadopsi untuk tingkat nasional. Idealnya tiap-tiap negara punya daftar merah sendiri, baik untuk suatu kelompok hewan atau tumbuhan khusus apalagi untuk kawasan sebab saran yang dibikin oleh IUCN ini memungkinan dibuatnya penilaian status kehati untuk tingkat regional dan nasional, misal yang telah dibikin oleh Brasil dan Afrika Selatan.

Indonesia sendiri sesungguhnya telah punya satu buku daftar merah untuk 50 type kayu komersial, dan juga perwakilan otoritas penilaian red list untuk tumbuhan. Pada th. ini juga telah dibentuk Indonesian Species Specialist Group di bawah payung IUCN Species Specialist Group yang tidak benar satu kegiatannya dapat berfokus pada penilaian status konservasi type kehati Indonesia.

Daftar Merah ini amat perlu tidak hanya untuk menunjang mengidentifikasi spesies-spesies yang membutuhkan usaha pemulihan yang ditargetkan, tapi juga untuk memfokuskan agenda konservasi dengan mengidentifikasi web site dan habitat utama yang wajib dilindungi.

Contoh negara yang telah mengadopsi ini adalah Afrika Selatan. Selain itu daftar merah tersebut tidak saja menjadi rujukan untuk kebijakan dan langkah-langkah konservasi melainkan juga berkenaan dengan perdagangan.

Jika suatu type kehati telah masuk kategori daftar merah dan menjadi komoditas perdagangan di pasar Internasional, maka perdagangannya diatur oleh sebuah konvensi internasional lainnya yaitu CITES (The Convention on International Trade Endangered Species).

Regulasi yang tersedia di CITES menyesuaikan (berdasarkan keinginan pasar internasional juga tentunya) bahwa semua produk/komoditas yang berasal berasal dari flora/fauna yang terancam punah wajib dipastikan ‘aman’ didalam artian tidak mengancam kelangsungan hidup suatu type kehati di habitat/tempat asal mereka.

Seperti kami ketahui dengan sebagai negara yang dikaruniai Tuhan kekayaan alam yang begitu berlimpah ini, warga Indonesia punya hak untuk memanfaatkannya pada lain dengan menjajakan komoditas kehati ini di pasar Internasional. Komoditas perdagangan berasal dari kehati ini telah berkontribusi menggerakkan ekonomi berasal dari tingkat tapak masyarakat hingga industri besar.

Apa yang dapat kami petik berasal dari informasi ini? Dengan menyadari eksistensi suatu type kehati tersebut dengan status konservasinya, diinginkan supaya kami menjadi pikirkan bahwa tersedia makhluk ciptaan Tuhan lain yang juga berhak atas kehidupannya di sebagian relung ekosistem planet ini.

Sebagai penyelenggara roda pembangunan dan juga pengambil kebijakan strategis terasa menyadari isu-isu basic berkenaan kehati, perlu bagi pemerintah dan para pengampu kebijakan beserta jajarannya untuk lebih menyadari bermacam konvensi internasional dan regulasi yang terkait, termasuk red list atau daftar merah.

Dengan menyadari hal tersebut, kami tidak saja dapat menjaga dan menjaga suatu type berasal dari kepunahan melainkan juga menjaga siklus ekonomi yang sehat supaya roda pembangunan terus terjadi didalam kesatuan ekosistem dan ekonomi berkelanjutan.