• April 19, 2024
Kucing Suka Tinggal di Dalam Kotak

Mengapa Kucing Suka Tinggal di Dalam Kotak?

Kucing dikenal sebagai hewan peliharaan yang kerap tinggal di didalam kotak. Mereka dapat bermain sampai tidur di sana. Tapi sebenarnya, apa penyebab kucing bahagia tinggal di didalam kotak?

Melansir berasal dari Pop Science, perihal ini ada kaitannya dengan karakter kucing sebagai predator. Kucing pada umumnya tidak bahagia terkecuali terlihat, karena bakal mengurangi kapabilitas mereka untuk berburu dan mengakibatkan mereka rentan untuk dijadikan santapan orang lain.

Kondisi ini menjelaskan kecenderungan mereka untuk menyukai area tertutup dan kotak kardus yang nyaman kerap kali cocok untuk kebutuhan tersebut , Selain itu di sini kami juga akan sedikit membahas tentang permainan judi online yang tersedia dari link situs slot server jepang

Kotak Bisa Membuat Kucing Beradaptasi Lebih Baik

Sebuah penelitian pada th. 2014 menyimpulkan bahwa kucing yang berlindung secara tertentu beradaptasi lebih baik pada lingkungan baru dan mengurangi stres disaat mereka punyai kotak untuk bersembunyi.

Transisi berasal dari daerah terbuka dan terbuka ke daerah safe dan tertutup ditentukan oleh sebuah tepi. Namun, fakta bahwa kucing dan manusia melihat perihal sama tidak bermakna mereka mengalami apa yang mereka melihat dengan cara yang sama. Ini berkaitan dengan kanizsa

Apa Itu Kanizsa?

Kanizsa merupakan ilusi fragmen yang terpisah secara spasial dan memberikan kesan segitiga putih cerah, ditentukan oleh kontur ilusi tajam, menutup tiga lingkaran hitam dan segitiga bergaris hitam.

Saat kita melihat kanizsa, kita tahu apa yang kita melihat itu tidak nyata. Apakah kucing juga tahu perihal ini?

Menurut studi, kucing tidak tahu perbedaannya. Kucing bakal masuk didalam segitiga kanizsa dan tidak muncul berasal dari area tersebut. Mengapa? Karena kucing menjadi kanizsa sama dengan kotak yang biasa ia tinggali.

Sampai selagi ini, ilmuwan masih bertanya-tanya. Apakah kucing terlampau merespons godaan kotak imajiner dengan tepi imajiner? Bisakah mereka “melihat” “tepiannya”? Apakah mereka tahu bahwa “tepian” tersebut memang tidak ada? Apakah mereka peduli? Ilmuwan masih belum dapat menjawabnya.